Tuesday, August 2, 2011

POLIGAMI

assalamulaikum wbt, terlintas difikiran tentang konsep perkahwinan dalam islam yang menggalakkan poligami... jadi terpanggil untuk membaca beberapa blog yang agak meyakinkan. akhirnya pelbagai soalan terjawab, insyaallah, ilmu yang disebarkan ini dapat membersihkan fikiran kita berkenaan Rasulullah yang berkahwin seramai 9 org isteri..

Islam Menjawab Tuduhan

Bahwa Islam Identik Dengan Poligami

“ 08. Mereka bermaksud hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya. Tapi Allah menyempurnakan cahayanya, sekalipun dibenci orang yang kafir”.

(Q.S. Ash-Shaaf:Ayat 8)


Saat ini, masalah Poligami sedang marak dibicarakan. Dan masalah Poligami akan tetap menarik untuk dibicarakan.


Bahkan semakin banyak yang berkomentar dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Tapi yang sangat disesalkan adalah banyak pelaku poligami, menggunakan atau menafsirkan dalil-dalil dalam Al-qur’an atau Hadist secara membabi buta, dan menggunakannya hanya sebagai pembenaran perilaku mereka.

Dampaknya sangatlah buruk bagi citra Agama Islam. Dimana banyak orang non muslim yang mengejek, seolah Agama Islam adalah agama yang hanya mementingkan syahwat semata.


Atau seolah-olah menyatakan bahwa Agama Islam adalah agama yang tidak menghargai martabat dan hak-hak wanita, karena membolehkan poligami.

Hal ini diperburuk oleh adanya upaya dari musuh-musuh Islam (kaum Kafir, Kaum Musyrik dan Kaum Munafik), yang memiliki banyak kepentingan untuk menghancurkan Islam. Dan mencoba menggunakan masalah poligami ini sebagai alat untuk merusak citra Agama Islam.

Hal lain yang sangat disesalkan adalah, sudah mulai adanya trend untuk menjadikan poligami sebagai gaya hidup. Seolah-olah, seseorang baru bisa dibilang hebat kalau sudah mampu memiliki ‘isteri simpanan’. Naudzu billahi min dzalik!.

Dengan mudahnya pelaku Poligami memutar balikkan Ayat-ayat Allah dan Sunnah Nabi sebagai pembenaran terhadap perilaku mereka. Hal itulah yang sangat dinanti-nantikan oleh Musuh-musuh Islam. Sehingga Ummat Islam nantinya akan dapat mereka ‘citra-kan’ sebagai Ummat yang mempertuhankan syahwat semata.

Dan bagi para Kaum Muslimahnya, terutama yang kurang memiliki pengetahuan Agama Islam, mereka diharapkan akan mulai mempertanyakan kebenaran ajaran Islam. Hal itu karena kaum Muslimah akan tidak merasa nyaman dengan praktek-praktek poligami yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam ini.

Tapi tidak ada yang lebih buruk daripada sebagian orang yang dianggap sebagai tokoh-tokoh agama Islam, yang telah terpengaruh oleh faham Liberalisme. Dimana mereka seolah telah mengharamkan praktek Poligami, dengan cara menentang poligami demi meraih pengaruh di masyarakat, terutama dari kaum ibu.

Dan yang sangat disayangkan lagi, sebagian besar dari kaum wanita, hanya memandang poligami dari sudut kepentingan pribadi mereka semata. Mereka tidak faham akan apa sebenarnya poligami yang sesuai dengan ajaran Agama Islam.

Sebagian dari orang yang disebut-sebut sebagai tokoh agama Islam, melakukan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi sesuai kebutuhan dan keinginan diri mereka sendiri, untuk menolak Poligami. Walaupun hasilnya justru membingungkan Ummat Islam itu sendiri.

Disadari atau tidak, mereka telah melakukan upaya untuk menghapus Hukum-hukum Allah dan Sunnah Rasul demi kepentingan pribadi mereka semata.

Menjadi tugas bagi kita semua, untuk menjelaskan dan menjabarkan masalah poligami menurut ajaran Agama Islam ini kepada semua orang yang belum mengerti. Dengan harapan, agar mereka bisa menjadi faham dengan sebaik-baiknya. Dan menghapus prasangka buruk bahwa Islam merendahkan derajat wanita, atau bahwa Islam hanya memperturutkan hawa nafsu kaum pria, dengan melakukan Poligami.

Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa SESUNGGUHNYA ISLAM TIDAK MENCIPTAKAN POLIGAMI!.

Poligami sudah ada sebelum Agama Islam diturunkan. Seperti pada Zaman Kerajaan Mesir Kuno, pada zaman Kerajaan/Dinasti Cina, pada zaman kerajaan Persia, dan bahkan pada zaman kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia. Dimana Raja biasanya tidak hanya memiliki satu orang permaisuri, akan tetapi juga memiliki banyak sekali selir atau gundik.

Dan pada Kaum bangsawan atau kaum kaya pada masa itu, mereka memiliki banyak isteri, dan ‘wanita peliharaan’ yang belum tentu di nikahi secara sah. Jadi sangat jelas, bahwa Islam tidak menciptakan poligami, karena Poligami sudah ada jauh sebelum adanya ajaran Agama Islam.

Dan tujuan Poligami dalam Islam antara lain, adalah untuk mencegah terjadinya perzinahan. Tetapi pelaksanaan Poligami tersebut, diatur dengan sangat ketat.

Dimana kita mengerti bahwa Islam sebagai Agama dari Allah, yang selalu Menjadi pedoman hidup seluruh Ummat Manusia, justru mengatur dan membatasi Poligami, sehingga tidak akan merusak masyarakat itu sendiri.

Telah nyata kerusakan yang dilakukan oleh Poligami di luar ajaran Agama Islam. Dimana lelaki boleh memiliki isteri dengan jumlah yang tidak terbatas, dan adanya perbedaan hak antara isteri/ permaisuri dengan selir/gundik. Tidak hanya itu, anak dan keturunannya juga mempunyai hak yang berbeda.

Wanita seolah hanya menjadi pemuas nafsu syahwat!, dan anak-anak dari hasil hubungan tersebut, banyak yang di telantarkan.

Agama Islam yang merupakan agama yang di turunkan langsung oleh Allah sang Pencipta Manusia, yang tahu akan kemampuan manusia, membatasi jumlah isteri yang boleh di nikahi, maksimal hanya empat orang.

Dan hak dari masing-masing isteri sangat diperhatikan, serta suami dituntut untuk berlaku adil. Adil tidak saja kepada masing-masing isterinya, tetapi juga terhadap anak keturunannya, tanpa memandang dari isteri yang manapun. Hal ini seperti yang tertera dalam Al-Qur’an:


“003. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”.

(Q.S.An-Nisaa’ Ayat 3).

Dari uraian diatas, sangatlah jelas bahwa Islam mengatur poligami, bukan menciptakan poligami. Bahkan secara jelas, Islam mensyaratkan ketentuan yang berat bagi yang hendak melakukan poligami, yaitu harus mampu berlaku adil kepada isteri-isterinya. Dengan demikian hak dari para wanita dan keturunannya tidak akan di lecehkan/direndahkan.

Lalu keadilan seperti apakah yang di maksud oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 3 tersebut?.

Apakah keadilan sama rata sama rasa seperti yang dianut dalam faham komunis?.

Bukan….!.

Keadilan yang dimaksud disini adalah pemenuhan kebutuhan sesuai dengan kondisi dari masing-masing isteri beserta anak-anaknya.

Sebagai contoh, kebutuhan ekonomi isteri pertama yang memiliki 3 orang anak yang semuanya sedang bersekolah, pasti akan jauh lebih besar dari kebutuhan isteri kedua yang hanya memiliki 1 orang anak yang bersekolah, atau lebih besar dari kebutuhan isteri ketiga yang baru memiliki seorang anak balita yang belum bersekolah.

Sehingga akan tercapailah keadilan jika sang suami bisa memenuhi seluruh kebutuhan isteri pertama dan anak-anaknya, dengan sejumlah uang yang nominalnya (jumlahnya) lebih besar dari jumlah uang yang diberikan kepada isteri kedua atau ketiga yang kebutuhannya lebih kecil dibanding kebutuhan isteri pertama.

Dan keadilan juga di tegakkan, jika sang suami bisa memenuhi seluruh kebutuhan isteri kedua, dengan sejumlah uang yang nominalnya (jumlahnya) lebih besar dari jumlah uang yang diberikan kepada isteri ketiga, yang kebutuhannya lebih kecil dibandingkan dengan isteri yang kedua.

Keadilan juga sudah di tegakkan, walaupun mungkin jumlah uang yang diberikan kepada isteri yang kedua, ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah uang yang diberikan kepada isteri yang pertama.

Dan baik isteri yang kedua dan ketiga tidak berhak atau tidak boleh menuntut untuk meminta jumlah uang yang sama seperti yang diberikan suaminya kepada isteri yang pertama. Walaupun mereka menggunakan alasan “agar tercapai rasa keadilan”. Karena memang kebutuhannya berbeda.

Disinilah pentingnya kemampuan suami untuk menjadi penengah dan harus dapat bersifat terbuka pada seluruh isteri-isterinya.

Dan Islam tidak hanya mensyaratkan keadilan dari sisi pemenuhan kebutuhan materi semata. Sang suami juga harus bisa memenuhi rasa keadilan atas pembagian perhatian, kasih sayang, pemenuhan kebutuhan biologis diantara isteri-isterinya, dan pembagian waktu yang diberikan baik kepada para isteri, juga kepada anak-anak dari isteri-isterinya.

Jelas sudah, keadilan yang di tuntut disini adalah keadilan menurut pandangan Allah. Yaitu keadilan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan dari semua isteri-isterinya beserta anak keturunannya, baik kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan lahiriah dan bathiniah.

Karena jumlah dan macam kebutuhan masing-masing individu adalah berbeda. Maka cara dan jumlah untuk memenuhi kebutuhan tersebut-pun akan berbeda-beda pada masing-masing individu. Dan kitapun harus membedakan antara ‘Kebutuhan’ dengan ‘Keinginan’.

Selama seluruh kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, walaupun tampak yang satu menerima lebih besar dari yang lain, maka keadilan sudah diterapkan oleh sang suami. Selebihnya, bertawakkallah pada Allah, yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Dan jika si suami merasa tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dan tidak mampu untuk membaginya secara adil sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para isteri dan anak-anaknya, maka terlarang baginya untuk melakukan poligami…!.

Dan jika ia tetap memaksakan diri untuk berpoligami, maka ia akan mendapat murka Allah. Karena telah melakukan kedzaliman (aniaya) atas diri isteri-isterinya beserta anak keturunannya.

Kenapa sih, di dalam Islam kok harus ada Poligami?. Mungkin hal itu pernah tercetus di dalam hati setiap Muslimah.

Islam sebagai Agama Fitrah, menyadari bahwa ada sebagian dari golongan laki-laki, memiliki libido yang tidak bisa terpuaskan oleh hanya satu isteri. Atau bisa terjadi, dimana si isteri tidak bisa melayani si suami karena sakit, sementara sang suami tidak tega untuk menceraikan isterinya yang sedang sakit. Dan untuk menghindari adanya perzinahan, poligami boleh dipertimbangkan, dengan syarat, mampu bertindak adil.

Sangatlah indah kiasan yang menggambarkan bahwa Poligami adalah seperti Pintu Darurat pada pesawat terbang.

Pintu itu harus tetap ada untuk antisipasi keadaan darurat. Tetapi jika dalam kondisi normal, pintu itu dilarang keras untuk sembarangan dibuka. Dan kalaupun terjadi kondisi darurat, maka orang yang dapat membuka pintu darurat tersebut, hanyalah orang yang faham tentang bagaimana cara untuk membukanya dengan baik dan benar.

Karenanya, tidak sembarangan orang bisa membuka pintu darurat tersebut. Dan sangatlah salah, kalau pintu darurat tersebut harus dihilangkan dari struktur pesawat, walau karena pertimbangan apapun.

Seperti halnya Pintu Darurat dalam pesawat terbang, Poligami tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak memiliki “kebutuhan khusus”.

Kata kuncinya adalah “Kebutuhan” dan “Mampu berbuat Adil”. Dan harus dibedakan antara “Kebutuhan” dengan “Keinginan”.

Hampir pada setiap diri lelaki normal, pasti “menginginkan” untuk memiliki lebih dari satu isteri. Apalagi jika bisa memiliki kesempatan untuk memiliki empat orang isteri yang semuanya masih muda, masih gadis dan cantik-cantik.

Tetapi belum tentu ia “membutuhkan” hal tersebut. Dan belum tentu ia “mampu untuk menafkahi” dan “berbuat adil” diantara isteri-isterinya tersebut.

Jika seluruh kebutuhannya dapat dipenuhi dengan hanya memiliki seorang isteri, Poligami adalah terlarang baginya.

Demikian juga jika ia hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan (kebutuhan Jasmani dan Rohani) seorang isteri, maka terlarang

baginya untuk ber-Poligami, walaupun ia sangat ingin.

Selain itu, walaupun ia memiliki kebutuhan untuk ber-Poligami, dan ia mampu untuk memenuhi kebutuhan lebih dari satu orang isteri, tetapi ia tidak mampu menjalankan Poligami sesuai Ajaran Agama Islam seperti yang di contohkan atau di sunnahkan oleh Rasulullah SAW, maka ia tetap terlarang untuk ber-Poligami.

Karenanya, jika ada orang yang hendak berpoligami, lalu mengatas namakan Sunnah Rasulullah, akan tetapi pada kenyataannya tidak mampu memperlakukan isteri-isterinya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, maka Poligaminya adalah salah, karena bertentangan dengan Sunnah yang di contohkan oleh Rasulullah.

Sangatlah salah, jika poligami dilakukan hanya dengan alasan mengikuti sunnah Rasul, tanpa kita mengerti poligami seperti apa yang di lakukan oleh Rasulullah.

Jika kita mempelajari poligami yang dilakukan oleh Rasulullah, maka kita akan mendapati bahwa hanya Siti Aisyah r.a, yang dinikahi oleh Rasulullah dalam keadaan masih gadis/perawan.

Pernikahan inipun dilakukan untuk mengikat tali persaudaraan yang lebih erat dengan sahabat utamanya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, yang merupakan ayah dari Siti Aisyah r.a. Hal ini biasa dilakukan dalam adat istiadat bangsa Arab. Apalagi mengingat bahwa Abu Bakar adalah sahabat nabi yang utama, dan merupakan salah satu dari orang mukmin pertama, yang membenarkan kerasulannya.

Abu Bakar juga adalah sahabat yang selalu membelanya, dan sahabat yang menemaninya hijrah dari Makkah ke Madinah.

Pernikahan untuk mengikat tali persaudaraan ini juga dilakukan Rasulullah terhadap Hafshah Binti Umar bin Khattab r.a., putri dari salah satu sahabat utama, yaitu Umar bin Khattab.

Ketika dinikahi oleh Rasulullah, Hafshah adalah seorang janda yang sudah berumur dan bukan seorang wanita yang rupawan.

Melihat puterinya setiap hari murung karena tidak ada pria yang tertarik lagi untuk menjadi suaminya, Umar bin Khattab meminta sahabatnya, Abu Bakar r.a. untuk menyunting anaknya sebagai isteri.

Akan tetapi Abu Bakar r.a. menolaknya. Kemudian Umar kembali meminta sahabatnya yang lain, Ustman bin Affan, untuk mau menikahi puterinya, tetapi kembali Ustman menolaknya.

Menerima kedua penolakan ini, Umar menjadi marah, dan kecewa karena tidak ada sahabatnya yang mau menjadi suami dari anaknya.

Mengetahui kegalauan yang menerpa keluarga sahabatnya, dan untuk mencegah rusaknya persaudaraan diantara para sahabatnya, Rasulullah kemudian datang kerumah Umar bin Khattab, dan menyatakan niatnya untuk memperisteri Hafshah binti Umar bin Khattab.

Betapa bahagia dan bangganya Umar bin Khattab mendengar bahwa Rasulullah mau memperisteri puterinya. Siapa yang tidak bangga jika bisa menjadi mertua dari seorang Rasulullah.

Dalam hal ini, Poligami dilakukan oleh Rasulullah untuk menghindari perpecahan diantara para sahabatnya, juga untuk menghindari perzinahan dari seorang wanita yang sulit untuk mendapatkan seorang suami karena sudah menjadi janda, berumur dan tidak menarik lagi.

Dan dengan pernikahan tersebut, Rasulullah telah memberikan penyelesaian masalah bagi semua fihak, baik bagi Hafshah, ayahnya (Umar bin Khattab), dan pada seluruh sahabatnya.

Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh Rasulullah dengan menikahi Shafiyyah binti Huyay, yang merupakan janda dari seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir, yang merupakan musuh besar dari kaum Muslimin.

Setelah suaminya meninggal karena di hukum mati sesaat setelah tertangkap oleh kaum Muslimin, hidup Shafiyyah amat menderita dan terlunta-lunta.

Selain sebagai seorang janda yang sudah berumur, oleh kaumnya (Kaum Yahudi Bani Nadhir), ia tidak lagi di gubris, karena mereka merendahkan suaminya yang dianggap tidak mampu atau tidak becus mengalahkan kekuatan kaum muslimin.

Dan oleh Ummat Islam, dia dipandang lebih hina lagi, karena sebagai janda dari seorang pemimpin Yahudi.

Tetapi Rasulullah yang memiliki Akhlak Mulia, bertindak sebaliknya. Rasulullah memberikan suri tauladan yang mulia, dengan memperisteri Shafiyyah, sewaktu beliau menyerbu benteng Khaibar dalam melawan musuh-musuh Ummat Islam.

Rasulullah seolah ingin mencontohkan agar Ummat Islam mau menolong para janda yang terlunta-lunta tanpa harus mempertimbangkan latar belakang garis keturunannya, dan latar belakang pernikahannya yang terdahulu.

Rasulullah berkenan untuk menikahi Shafiyyah, janda yang sudah tidak muda lagi, bekas isteri dari musuh besar Ummat Islam, hanya dengan pertimbangan ke-Ikhlasan untuk membantu seorang wanita yang hidup terlunta-lunta dan di sia-siakan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Semoga Shalawat dan Salam, terus terlimpahkan bagi Rasulullah yang berakhlak teramat mulia ini, ya Allah…..

Telah jelas, bahwa selain Aisyah r.a., seluruh isteri nabi adalah berstatus janda atau sudah tidak gadis lagi.

Dan banyak yang dinikahi oleh Rasulullah, pada usia yang sudah tua, seperti halnya Siti Khadijah, isteri pertama Rasulullah yang ketika dinikahi, telah berumur 40 tahun.

Dan isteri-isteri nabi yang lainpun di nikahi dengan motif untuk menolong dan menjaga kehormatan-nya sebagai wanita, bukan untuk mengumbar hawa nafsu semata!.

Isteri-isteri nabi yang lain, seperti Saudah binti Zam’ah, Ummu Salamah binti Abu Ummayah, Maimunah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan Juwariyyah binti al-Harits, dinikahi oleh Nabi pada usia yang sudah tua/sudah berumur, sudah memiliki banyak anak, dan sudah tidak cantik atau sudah kurang menarik secara fisik.

Tujuan mulia nabi dengan menikahi mereka adalah untuk tetap menjaga kehormatan mereka daripada mereka harus terus hidup menjanda. Dan untuk menafkahi anak-anak mereka, mengingat kaum pria-lah yang mencari nafkah, dan kaum wanita sebaiknya tinggal dirumah untuk mengurus dan mendidik keluarga. Dan bagi para janda, akan sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka seorang diri.

Sebagian lagi, untuk menghormati suami-suami mereka yang terdahulu, yang telah gugur sebagai syahid dalam peperangan membela Agama Islam.

Juga tentunya sebagai sarana untuk merubah adat-adat jahiliyyah yang masih berlaku, serta untuk mengangkat harkat dan martabat dari wanita itu sendiri.

Dan yang terpenting, sebagai sarana Tarbiyah (Pendidikan) dengan Uswatun Hasanah (contoh yang baik) dari Rasulullah, bagi seluruh Ummatnya.

Jika Rasulullah berpoligami hanya untuk memperturutkan hawa nafsu belaka, tentu akan sangat mudah baginya sebagai pemimpin kaum Muslimin, untuk mencari sebanyak mungkin gadis-gadis muda yang masih perawan untuk di jadikan isterinya. Tetapi sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah dan para sahabat Nabi, sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut.

Dengan demikian, telah nyata bahwa Poligami yang dicontohkan oleh Nabi (Sunnah Nabi), adalah poligami yang di gunakan untuk membantu wanita-wanita yang tua dan lemah. Untuk menafkahi dan memuliakannya berikut keturunannya. Dan bukan hanya untuk memuaskan nafsu birahi semata.

Hal tersebut juga dilakukan dengan pertimbangan, bahwa akan sangat sedikit pria yang bersedia memperisteri janda-janda tua, dan harus menanggung anak-anak dari suami mereka yang terdahulu.

Seperti sudah di sebutkan di atas, bahwa selain untuk melindungi hak kaum wanita, Rasulullah juga melakukan poligami sesuai petunjuk Allah untuk merubah adat istiadat Jahiliyyah yang masih berlaku saat itu. Hal ini seperti yang terjadi pada pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy.

Sebelumnya, Rasulullah melamar Zainab untuk menjadi isteri dari Zaid bin Haritsah.

Zaid bin Haritsah adalah bekas seorang budak, yang telah di merdekakan oleh Rasulullah, dan telah diangkat sebagai anak oleh Rasulullah.

Zainab sangat bahagia mengetahui bahwa ia akan menjadi menantu dari Rasulullah. Akan tetapi setelah menikah, Zainab yang merupakan puteri berdarah biru dari kalangan bangsawan Arab, merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa Zaid bin Haritsah adalah bekas seorang budak.

Hal tersebut selalu memicu pertengkaran di dalam keluarga Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy. Padahal Rasulullah berniat menikahkan Zainab dengan Zaid, dengan harapan agar dapat mengikis kebiasaan Jahiliyyah yang selalu menganggap rendah orang yang dianggap budak atau bekas budak.

Islam sangat menentang perbudakan. Dan Islam selalu berusaha mengikis perbudakan. Islam ingin mengembalikan hak-hak dari para budak.

Rasulullah selalu menanamkan bahwa semua manusia memiliki harkat dan martabat yang harus di hormati. Dan yang membedakan derajat mereka bukanlah dari sisi keturunan, bukan dari sisi status sosial, kekayaan atau lainnya.

Sesungguhnya yang akan membedakan mereka hanyalah ketakwaannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah sebagai berikut:

” 013. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “.

(Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat Ayat 13)

Rasulullah telah berkali-kali berusaha untuk mendamaikan perseteruan rumah tangga antara Zainab dan Zaid. Akan tetapi malang tidak dapat ditolak dan untung tidak dapat di raih, pada akhirnya, pernikahan mereka harus kandas di tengah jalan. Merekapun akhirnya bercerai.

Perceraian itu berdampak sangat buruk bagi Zainab dan keluarganya yang merupakan keluarga bangsawan Arab. Karena pada saat itu, sebagai putri bangsawan yang kemudian menikah dengan bekas budak belian, lalu kemudian diceraikan pula, merupakan sebuah hinaan bagi status sosial Zainab dan keluarganya. Dan tidak ada seorang pria pun yang mau menikahi janda dari bekas seorang budak belian.

Dalam kegalauan, kesedihan serta cemoohan yang menimpa Zainab dan keluarganya, Rasulullah menawarkan untuk memperisteri Zainab binti Jahsy.

Betapa gembiranya Zainab dan keluarga besarnya, mengetahui bahwa Rasulullah yang merupakan pemimpin kaum Muslimin, mau memperisteri Zainab.

Selain untuk menepis kegalauan di dalam keluarga tersebut, pernikahan ini juga untuk menghilangkan adat kebiasaan Jahiliyyah, yang menyamakan posisi anak kandung dengan anak angkat, dan adanya anggapan bahwa isteri/suami dari anak angkat tidak boleh di nikahi.

Padahal dalam Islam, anak angkat bisa menjadi isteri dari bapak angkatnya, atau anak angkat bisa menjadi suami dari ibu angkatnya. Apalagi janda dari anak angkat seperti halnya Zainab, tentunya halal untuk di nikahi oleh Rasulullah.

Hal ini diperbolehkan dalam Islam, sesuai tuntunan perilaku (Sunnah) yang di contohkan oleh Rasulullah dengan menikahi Zainab binti Jahsy.

Karena sesungguhnya yang di haramkan dalam Islam adalah pernikahan sedarah. Sedangkan anak angkat, tidaklah memiliki keturunan sedarah. Setidaknya tidak secara langsung, sebagaimana halnya ayah/ibu terhadap anak kandungnya.

Islam sebagai agama yang berasal dari Allah yang Maha Pencipta Manusia, tahu bahwa pernikahan sedarah akan berakibat buruk bagi manusia. Allah telah melarang pernikahan antar insan yang memiliki pertalian darah langsung. Sehingga pada keturunan manusia yang paling pertamapun, yaitu Habil dan Qabil, mereka tidak boleh menikahi saudara kembarnya.

Siti Hawa selalu melahirkan anak kembar yang memiliki kelamin

lelaki dan perempuan setiap kali melahirkan, dan sang pria harus menikahi saudara perempuannya dari kembaran yang lain.

Betapa agungnya ajaran Islam, dimana sebelum Ilmu pengetahuan moderen menemukan kerusakan genetis akibat pernikahan sedarah yang dapat menimbulkan beraneka macam kecacatan dan penyakit, Allah telah melarang hal tersebut sejak zaman Nabi Adam dan Siti Hawa.

Tetapi dengan kebodohan manusia di alam Jahiliyyah, ketentuan Allah tersebut malah di tambah-tambahi dengan anggapan bahwa anak angkat tidak boleh dinikahi, dan jandanya juga seolah terlarang untuk di nikahi.

Hal inilah yang berusaha di rubah oleh Allah melalui perantaraan Rasulnya, dengan menunjukkan contoh sebagaimana pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy yang merupakan janda dari anak angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah.

Sehingga jelaslah bahwa pernikahan antara Rasulullah dan Zainab, bukanlah didasari oleh hawa nafsu semata, akan tetapi untuk menyelesaikan permasalahan di dalam keluarga Zainab, dan untuk merubah adat kebiasaan di jaman Jahiliyyah.

Perjuangan Rasulullah untuk meningkatkan harkat dan martabat

Budak atau bekas budak, tidaklah berhenti sampai disitu. Pada suatu ketika, Penguasa Mesir yang bernama Muqauqia, mengirimkan tanda persahabatan, yaitu antara lain seorang hamba sahaya/budak wanita, yang bernama Maria Qibthiyah.

Pemberian tanda persahabatan ini, adalah mengikuti adat istiadat para raja di zaman itu.

Jika diinginkan, Rasulullah berhak untuk mengambil Maria sebagai budaknya, karena Maria adalah sebuah pemberian. Akan tetapi, Rasulullah yang sangat menentang perbudakan, malah menaikkan harkat derajat Maria Qibthiyah dengan memperisterinya.

Maria Qibthiyah yang dahulu hanyalah seorang wanita budak belian, yang biasanya hanya digunakan sebagai pemuas nafsu majikan yang memilikinya, dan dianggap hanya sebagai harta benda belaka, tentunya sudah tidak gadis lagi.

Setelah diperisteri oleh Rasulullah, Maria Qibthiyah yang dahulu hanya seorang budak, kini terangkat derajatnya sebagai Ummul Mukminin (Ibu dari Kaum beriman), hingga sejajar dengan Siti Khadijah r.a. dan dengan Siti Aisyah r.a.

Jadi, Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah juga dilakukan sebagai media Tarbiyyah (Pendidikan) bagi seluruh Ummat Islam, melalui Uswatun Hasanah (Contoh yang baik), yang langsung di contohkan oleh Rasulullah.

Seperti sudah disebutkan diatas, Rasulullah menggunakan Poligami untuk menghapus adat istiadat Jahiliyyah, dimana kaum Jahiliyyah menyamakan posisi anak angkat dengan anak kandung. Lalu kemudian, adat istiadat Jahiliyyah ini di patahkan oleh Rasulullah dengan menikahi Zainab binti Jahsy r.a.

Rasulullah juga telah berupaya menghapuskan perbudakan melalui Poligami yang dilakukannya, dengan cara menikahi Maria Qibthiyah r.a.

Dimana dengan menikahi Maria Qibthiyah, Rasulullah menunjukkan bahwa derajat setiap manusia adalah sama. Karena pada saat itu, masih terdapat keengganan dari kaum Muslimin untuk menikahi bekas budak, mengingat kedudukan budak yang sangat hina pada jaman Jahiliyyah.

Pada saat itu, budak diperlakukan bukan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat. Budak bisa diperlakukan semena-mena, selayaknya benda. Budak tidak memiliki hak apapun.

Bukan hal yang aneh jika budak wanita biasanya di jadikan sebagai pemuas nafsu bagi tuannya, karenanya tidak akan ada budak yang masih gadis/perawan. Dan budak wanita yang cantik, akan berharga sangat mahal. Tetapi setelah budak tersebut tidak lagi menarik, atau tuannya sudah merasa bosan terhadapnya, maka dengan mudahnya budak itu bisa dijual ke orang lain yang berminat untuk memilikinya.

Sedangkan budak pria, biasanya diperlakukan layaknya kuda beban. Di beri pekerjaan yang berat, dan bahkan jika melawan, akan disiksa dengan kejam selayaknya hewan.

Hal ini telah tercatat dalam sejarah, dimana Bilal, seorang budak yang tergerak hatinya untuk masuk Islam, disiksa dengan sedemikian kejamnya oleh tuannya. Ia di jemur di padang pasir, dan tubuhnya di tindih dengan batu besar yang sangat panas. Sedemikian rendah dan hinanya adat kebiasaan Jahiliyyah waktu itu.

Rasulullah dengan kemuliaannya, telah memberikan contoh yang baik. Beliau bersedia menikahi Maria Qibthiyah, seorang budak yang kemudian terangkat derajatnya dengan pernikahan itu.

Dan beliau juga telah memerintahkan para sahabatnya untuk menebus dan memerdekakan Bilal, sehingga kemudian Bilal menjadi salah satu sahabat yang utama, sejajar dengan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.

Satu lagi Uswatun Hasanah yang dilakukan Nabi melalui Poligami,

yaitu untuk mengajarkan bagaimana menghormati tawanan perang.

Pada masa itu, sudah menjadi kebiasaan bagi fihak yang menang perang, untuk mendapatkan hasil rampasan perang (Ghanimah) dari fihak yang kalah.

Rampasan perang itu bisa berupa harta benda, alat-alat perang, bahkan manusia yang tertawan. Kebiasaan buruk yang terjadi pada saat itu, manusia yang menjadi rampasan perang, biasanya dijatuhkan derajatnya dengan diperlakukan sebagai budak, yang dianggap sebagai harta benda semata. Dengan petunjuk Allah, Rasulullah telah merubah kebiasaan buruk tersebut.

Pada sebuah peperangan antara Kaum Muslimin dengan Bani Musthaliq (yang telah membantu kaum kafir Quraisy), kaum Muslimin mencatat kemenangan yang gemilang.

Dengan kemenangan tersebut, Kaum Muslimin berhak untuk mendapat rampasan perang. Dari rampasan perang tersebut, terdapatlah beberapa orang wanita, salah satunya adalah Juwairiyyah binti Harits bin Abi Dhirar, yang merupakan putri dari seorang tokoh di bani Musthaliq.

Menurut tata cara pembagian Rampasan perang yang dilakukan oleh Rasulullah, seharusnya Juwairiyyah binti Harits menjadi milik Tsabit bin Qais bin asy-Syimas, yang merupakan sepupu Rasulullah.

Namun Juwairiyyah tampak sangat sedih dengan nasib yang menimpanya, dimana dari seorang anak pemuka suku bani Musthaliq, kemudian harus menjadi budak belian.

Juwairiyyah binti Harits kemudian meminta Tsabit bin Qais untuk memerdekakan dirinya dengan tebusan yang di janjikan akan dibayar oleh Juwairiyyah binti Harits.

Karena ketiadaan uang untuk menebus dirinya, Juwairiyyah binti Harits menjumpai Rasulullah, dan meminta pertolongan beliau.

Dengan petunjuk Allah, Rasulullah kemudian bertanya kepada Juwairiyyah binti Harits, apakah ia bersedia untuk dipinang menjadi isteri bagi Rasulullah. Jika ia bersedia, maka Juwairiyyah binti Harits akan ditebus dan di merdekakan oleh Rasulullah dari Tsabit bin Qais.

Juwairiyyah binti Harits tentunya sangat gembira, mengetahui ia akan mendapat kedudukan sebagai isteri Rasulullah yang mulia.

Setelah Juwairiyyah binti Harits ditebus dan di merdekakan, maka dilangsungkanlah pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyyah binti Harits.

Yang sangat menakjubkan adalah pengaruh dari pernikahan tersebut terhadap seluruh kaum Muslimin pada saat itu. Dimana mereka yang telah mengambil kaum wanita dan pria dari bani Musthaliq sebagai rampasan perang dan menjadikannya sebagai budak, merasa tidak enak kepada Juwairiyyah binti Harits r.a. yang kini merupakan Ummul Mukminin (ibu dari para kaum Mukmin).

Karena sesungguhnya para wanita dan pria yang menjadi rampasan perang tersebut, merupakan sanak saudara dari Juwairiyyah binti Harits r.a.

Dalam hati mereka seolah berkata, “Apakah pantas, jika aku memperlakukan saudara ipar Rasulullah (sanak saudara Juwairiyyah binti Harits yang dijadikan rampasan perang) sebagai budak?”.

Subhanallah…, dengan Kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah, maka seluruh Kaum Mulimin kemudian membebaskan /memerdekakan seluruh tawanan yang menjadi bagian mereka masing-masing.

Aisyah r.a. sampai berkata,”Dengan menikahi Juwairiyyah binti Harits, Rasulullah telah memerdekakan seratus orang dari keluarga bani Musthaliq. Aku belum pernah menemukan seorang wanita yang lebih berkah/bermanfaat bagi kaumnya, kecuali Juwairiyyah binti Harits”.

Tindakan bijaksana dari Rasulullah itulah yang kemudian menyebabkan bani Musthaliq memeluk Agama Islam. Dari bani Musthaliq pulalah terdapat banyak pejuang-pejuang Muslim, padahal sebelumnya mereka adalah kaum yang memusuhi Ummat Islam.

Dengan poligami yang dilakukannya, Rasulullah ingin menunjukkan dan mencontohkan, bahwa Islam sangat menentang perlakuan yang semena-mena kepada tawanan perang.

Dan Rasulullah juga sangat menentang perbudakan. Karena budak sekalipun, adalah manusia yang perlu di hormati dan di hargai. Serta bukan sebagai manusia yang boleh di hina dan direndahkan.

Betapa mulianya akhlak Rasulullah yang selalu berusaha mengangkat harkat dan derajat manusia baik di hadapan Allah, dan di hadapan manusia yang lainnya.

Sementara, yang banyak di lakukan oleh orang lain dalam ber poligami adalah, mencari gadis yang masih perawan, yang secantik mungkin, yang semuda mungkin. Lalu di peristeri hingga menggenapi empat orang.

Setelah ia bosan dengan salah satunya, lalu ia akan mencari-cari alasan untuk menceraikannya. Kemudian mencari gadis lain yang lebih menarik sebagai penggantinya, untuk menggenapi hitungan empat orang isteri. Dan seringkali mereka menelantarkan anak-anak dari hasil perkawinan tersebut.

Hal itu tentunya sangat bertolak belakang dengan apa yang di contohkan oleh Rasulullah, dan dengan apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah.

Dimana Rasulullah memperisteri janda-janda tua, menafkahi mereka beserta anak-anak mereka, sehingga mereka tidak jatuh di dalam jurang kemiskinan karena kebutuhan materi mereka sudah ada yang menanggung. Dan mereka tidak jatuh ke dalam jurang kemaksiatan, karena kebutuhan biologis mereka-pun telah dapat terpenuhi.

Bukankah dengan itu, Rasulullah telah menerapkan sifat Allah yang Maha Memelihara, yaitu memelihara Kehormatan dan Kehidupan dari para Janda-janda tersebut beserta seluruh keturunannya?.

Memang banyak suara-suara sumbang yang mungkin mengatakan bahwa, “Kalau mau membantu, bantu saja dengan memberikan uang, kenapa harus di per-isteri?, bukankah itu berarti membantu dengan pamrih biologis”.

Disini mereka melupakan satu hal yang sangat penting, bahwa Poligami dalam Islam adalah Poligami yang menguntungkan bagi semua fihak. Dari fihak laki-laki, ia akan mendapatkan keuntungan pahala dari Allah, karena dapat membantu menghidupi para janda-janda beserta keturunannya, disamping dapat menyalurkan libido-nya yang mungkin tidak bisa terpuaskan hanya dengan satu orang isteri. Dengan demikian, si pria tidak perlu terjerat dalam perzinahan.

Selain itu, dari fihak wanita, akan mendapatkan keuntungan, dimana ia dan keturunannya akan tetap dapat hidup layak karena bantuan dari si laki-laki yang kini menjadi suami barunya.

Terlebih lagi, sebagaimana seorang wanita normal yang tetap memiliki kebutuhan biologis, ia akan tetap dapat memenuhi kebutuhan biologisnya melalui hubungan suami isteri yang sah dengan suaminya yang baru.

Karenanya, amatlah keliru jika ada orang yang mengolok-olok poligami, dengan menyebut bahwa perbuatan itu adalah menolong dengan pamrih untuk dapat memperoleh kenikmatan biologis belaka.

Mereka tidak faham, bahwa pertolongan yang diperlukan tidak hanya sebatas materi, tetapi juga pemenuhan kebutuhan biologis bagi si wanita, sehingga ia tidak perlu melakukan perzinahan untuk memenuhi kebutuhan biologis tersebut.

Hal lain yang cukup penting adalah untuk menjaga martabat dari si wanita beserta anak-anaknya. Terlalu lama menjanda akan mengundang kesan yang buruk di mata masyarakat, dan akan mengundang godaan dari para lelaki yang lemah iman.

Dan bagi anak-anaknya, tentunya akan lebih baik bagi mereka jika mereka memiliki seorang ayah yang dapat melindungi ibu mereka, yang dapat melindungi, membiayai dan mendidik diri mereka, walaupun bukan ayah kandung mereka sendiri.

Dapat dikatakan bahwa poligami yang dilakukan berdasarkan ajaran Islam yang benar, seperti yang di contohkan oleh Rasulullah dan para sahabat nabi, memiliki manfaat sosial yang amat luar biasa.

Hal ini tentunya karena Ajaran Islam yang mengatur Poligami, adalah di tetapkan dan di ciptakan oleh Allah. Allah yang telah menetapkan Poligami, adalah pencipta manusia, dan paling mengerti akan kebutuhan manusia, dan mengerti akan apa-apa yang terbaik bagi manusia.

Yang sangat disayangkan adalah adanya sebagian orang yang disebut-sebut sebagai ulama atau tokoh-tokoh agama Islam yang dengan semena-mena menentang poligami hanya karena ingin tetap memiliki pengaruh dikalangan jama’ahnya, yang sebagian besar adalah kaum wanita.

Seharusnya mereka sadar, bahwa hal itu berarti secara tidak langsung mereka telah mencap bahwa poligami yang di lakukan oleh Rasulullah, adalah salah. Atau mereka juga secara tidak langsung, telah berani mengatakan bahwa Rasulullah telah melakukan kesalahan dengan ber-poligami. Dan yang terpenting, mereka telah berani menentang ketentuan Allah…!. Apakah masih patut bagi mereka untuk mengaku-ngaku diri mereka sebagai seorang Muslim?.

Dan perlu di catat, bahwa bukan hanya Rasulullah yang ber-poligami, akan tetapi para sahabat Rasulullah juga banyak yang ber-poligami (seperti Abdurrahman Bin Auf yang memiliki empat orang isteri), dan Ulama-ulama besar terdahulu juga banyak yang ber-poligami, sebagai contoh, Syech Abdul Qodir Jaelani yang juga memiliki empat orang isteri.

Beliau merupakan salah seorang ulama besar kharismatik dan di kenal sebagai tokoh utama di bidang Tasawwuf.

Di tanah air sendiri, sejarah mencatat bahwa Sunan Kalijaga, seorang Wali yang sangat mahsyur di pulau Jawa, memiliki dua orang isteri.

Isterinya yang pertama bernama Dewi Sarah, yang merupakan puteri dari Maulana Ishak. Dan isterinya yang kedua adalah puteri dari Sunan Ampel.

Wali lain yang juga tercatat berpoligami adalah Sunan Giri. Isteri pertama beliau bernama Dewi Murtasiyah, dan isteri keduanya bernama Dewi Wardah (anak dari Kiai Ageng Bungkul, seorang bangsawan Majapahit).

Dan jika kita merunut ke sejarah para nabi-nabi sebelum masa Nabi Muhammad, kita bisa melihat bahwa Nabi Ibrahim, juga melakukan poligami, dengan dua orang isteri, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar.

Demikian juga nabi Ayyub dan beberapa nabi lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Apakah orang-orang penentang poligami, yang dianggap sebagai tokoh-tokoh agama pada saat ini, telah berani mengatakan bahwa pengetahuan agama mereka telah melampaui Rasulullah dan para sahabat Rasulullah (yang belajar agama langsung dari Rasulullah), sehingga mereka berani menentang poligami yang nyata-nyata telah dilakukan oleh nabi dan para sahabat nabi?.

Atau, apakah para tokoh-tokoh agama yang menentang poligami pada saat ini, telah berani menyatakan bahwa pemahaman agama mereka adalah lebih hebat dari pada ulama-ulama terdahulu, seperti Syech Abdul Qodir Jaelani dan para Wali seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Giri yang telah jelas-jelas ber-poligami?.

Subhanallah…. Telah nyata kekeliruan berfikir mereka. Telah nyata bahwa baik sengaja atau tidak, mereka telah melakukan usaha untuk menghapus hukum Allah di muka bumi ini demi kepentingan diri atau golongan mereka sendiri.

Janganlah kerusakan yang telah di buat oleh orang-orang yang melakukan poligami yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, lalu di jadikan alasan untuk menentang poligami secara membabi buta dan tanpa ilmu pengetahuan.

Kita harus melihat dengan bijaksana bahwa poligami yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti yang di lakukan oleh Rasulullah, nabi-nabi sebelum Muhammad SAW, para sahabat nabi, dan para Ulama terdahulu, telah memberikan banyak manfaat bagi para janda dan anak-anak mereka, juga bagi fihak pria.

Sehingga, jangan poligaminya yang di tentang. Akan tetapi orang-orang yang telah melakukan poligami yang tidak sesuai dengan ajaran Islam-lah, yang harus di kecam, kemudian di arahkan untuk bertaubat, agar dapat kembali ke jalan Allah.

Janganlah menjadi orang-orang yang mengambil Ajaran Agama Islam hanya sebatas keperluannya saja.

Jika memang merasa tidak memerlukan poligami, cukup diam, dan banyaklah bersyukur, karena Allah telah mencukupkan kebutuhannya walaupun hanya dengan seorang isteri.

Dan janganlah mengecam orang-orang yang ber-poligami, kecuali jika orang tersebut melakukan poligami yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Dan janganlah menjelek-jelekkan poligami yang telah nyata-nyata diatur oleh Allah yang Maha Pencipta, dan di contohkan oleh Rasulullah. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh Alam dan bagi seluruh mahluk.

Dan diantara mahluk Allah, ada lelaki yang memerlukan untuk melakukan poligami. Dan ada wanita yang karena dalam kondisi sulit untuk mendapatkan jodoh, memerlukan untuk di poligami.

Akan tetapi, semuanya harus sesuai dengan syariat Islam seperti poligami yang di contohkan oleh Rasulullah.

Untuk itulah, Allah yang Maha Mengatur, yang Maha Mengetahui akan kebutuhan seluruh mahluknya, telah menyediakan perangkat peraturan mengenai Poligami beserta berbagai syarat yang harus dipenuhi, dan dengan sanksi-sanksi yang menyertainya.

Yang mungkin sangat menggelisahkan bagi kita semua adalah adanya anggapan keliru yang sengaja di hembuskan oleh kaum Non Muslim yang membenci Islam, atau dari kaum Munafik (yang berkedok Agama Islam tetapi sesungguhnya mereka berniat menghancurkan Islam), dimana mereka mengatakan bahwa Ajaran Islam mengenai Poligami menunjukkan bahwa Allah SWT telah berlaku tidak adil, dan perlu di pertanyakan ke Maha Adilannya.

Mereka mengatakan bahwa kalau memang Allah SWT itu adil, kenapa hanya lelaki yang di perbolehkan ber-poligami dalam Islam, kenapa wanita tidak di perbolehkan ber-poliandri (memiliki lebih dari satu orang suami).

Hal itu sengaja mereka hembuskan agar keimanan para Muslimah (kaum Muslim Perempuan) bisa goyah, dan kemudian menafi’kan (mengesampingkan) keadilan dan kekuasaan Allah SWT. Semoga kita semua terhindar dari hal semacam itu….

Sesungguhnya Allah yang Maha Pencipta, yang menciptakan manusia dan seluruh Alam Jagad Raya, telah menciptakan segala sesuatu dengan tepat sesuai dengan porsi dan ukurannya masing-masing, dan tidak ada yang meleset dari perhitungan Allah,


“049. Sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.

(Al-Qur’an Surat Al-Qamar ayat 49)

Lelaki telah diciptakan sebagai fihak yang menebar benih (sperma) untuk membuahi sel telur (ovum) yang ada di rahim wanita. Dan kaum lelaki pulalah yang diberikan tanggung jawab untuk memimpin seluruh anggota keluarga.

Sementara itu, banyak sekali norma-norma kemasyarakatan yang di atur dengan menggunakan garis keturunan dari ayah, seperti hukum waris, wali nikah dll, yang kesemuanya berpegang kepada garis keturunan yang diambil dari fihak Ayah (lelaki).

Bisa di bayangkan apa yang terjadi jika seorang wanita memiliki lebih dari seorang suami. Jika wanita itu mengandung, akan timbul sengketa mengenai siapa kiranya ayah dari anak yang di kandung.

Sebagian orang bisa mengatakan agar diberlakukan saja test DNA (test berdasarkan uji Genetik). Tetapi sebagai mana segala hal yang dibuat oleh manusia, test itu tidak bisa 100% akurat, dan hanya segelintir orang saja yang mampu untuk membiayai test yang sangat mahal dan berteknologi canggih tersebut.

Karena tidak adanya kepastian mengenai ayah kandungnya, setelah anak itu lahir, akan timbul keraguan mengenai suami yang mana yang harus bertanggung jawab untuk menafkahi anak tersebut.

Dan sudah menjadi sifat buruk bagi sebagian manusia, untuk mengelak dari tanggung jawab. Jika hal itu yang terjadi, maka si ibu dan si anak akan menjadi korban dari penelantaran si ayah. Akan timbul luka yang dalam bagi si anak yang terlantar. Besar kemungkinan dia akan tumbuh menjadi anak yang miskin kasih sayang dan bodoh karena tidak mendapat pendidikan yang seharusnya di berikan oleh ayah kandungnya.

Dan yang pasti, ia akan kesulitan untuk masalah warisan saat sang ayah meninggal, karena dia tidak mengetahui pasti mengenai siapakah ayah kandungnya.

Jika si anak adalah seorang wanita, maka persoalan akan menjadi semakin rumit. Karena bagi wanita, yang berhak untuk menikahkan adalah ayah kandungnya. Jika si ayah sudah meninggal, maka paman dari fihak ayahnyalah yang bisa menikahkan, dan jika tidak ada, maka saudara-saudara lelaki yang lebih tua dari garis keturunan ayahnyalah yang berhak menikahkan.

Dan jika Poliandri di terapkan, dan ia tidak tahu siapakah ayah kandungnya, maka pernikahan tersebut akan sulit untuk di wujudkan. Kalaupun ada wali nikah yang bisa diwakilkan oleh Penghulu, hal tersebut terbatas jika sang ayah sudah meninggal dunia, dan tidak ada lagi lelaki dari fihak ayah yang bisa menikahkannya.

Hal-hal tersebut hanyalah sekelumit gambaran mengenai kenapa kaum wanita tidak di perkenankan untuk memiliki lebih dari seorang suami (poliandri).

Allah sangat mengerti, dan sangat memahami kerusakan yang dapat di timbulkan oleh poliandri. Dan Allah sangat mengerti serta sangat memahami mengenai manfaat poligami (yang sesuai dengan ajaran Islam). Maka berprasangka baiklah dengan segala ketentuan yang telah di tetapkan oleh Allah.

Dan janganlah memandang Poligami semata-mata hanya dengan kaca mata “Perasaan Seorang Wanita Yang Di Poligami”. Karena perasaan wanita yang satu, bisa berbeda dengan perasaan wanita yang lain. Dan kondisi hidup setiap wanita tidaklah sama.

Hal diatas bisa dilihat dari contoh bagaimana Siti Sarah (isteri pertama Nabi Ibrahim), dengan Ikhlas mencarikan isteri kedua bagi suaminya.

Dimana pada usia yang sudah tua, mereka berdua belum dikaruniai seorang anakpun. Sementara Nabi Ibrahim membutuhkan anak sebagai penerus dakwahnya dalam membimbing Ummat.

Akan tetapi, karena sedemikian sayangnya Nabi Ibrahim terhadap isterinya, ia tidak mau jika harus menduakan isterinya.

Siti Sarah kemudian dengan ikhlas mencarikan isteri kedua bagi suaminya.

Siti Sarah akhirnya menemukan Siti Hajar, yang merupakan seorang bekas budak wanita, dan meminta Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar sebagai isteri kedua. Dari pernikahan Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar, kemudian membuahkan seorang putra yang sangat saleh, dan menjadi penerus kenabian, yaitu Nabi Ismail.

Subhanallah… Dari Nabi Ismail dan Siti Hajar inilah, Islam mencatat berbagai sejarah penting. Antara lain, Syariat Sa’i dalam ibadah haji (berlari-lari kecil dari bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali), adalah mengikuti contoh perjuangan yang dilakukan oleh Siti Hajar untuk mencari air bagi Nabi Ismail yang kehausan saat Nabi Ismail masih bayi.

Dan Islam juga mencatat bagaimana Nabi Ismail yang kala itu masih bayi, menghentak-hentakkan kaki mungilnya ketanah. Hentakan kaki tersebutlah yang kemudian menimbulkan pancaran sebuah mata air, yang kemudian di kenal sebagai Sumber Mata Air Zam-Zam.

Dan sejarah Islam-pun mencatat, bagaimana dengan adanya sumber mata air Zam-Zam tersebut, Makkah yang dahulunya adalah sebuah padang pasir yang sangat tandus, menjadi sering di datangi oleh orang-orang yang membutuhkan air di dalam perjalanan. Hingga banyak orang yang kemudian menetap, dan membuat Makkah menjadi sebuah kota yang ramai.

Sejarah Islam juga mencatat Ke-Shalehan Nabi Ismail, dimana pada usia yang masih sangat muda, ia ber-Iman dan menyerahkan dirinya kepada ketentuan Allah, yang memerintahkan ayahnya (Nabi Ibrahim) untuk menyembelih dirinya (Nabi Ismail). Dan pada akhirnya, Allah mengganti Nabi Ismail dengan se-ekor domba besar untuk disembelih. Dan kejadian itu di abadikan oleh Allah menjadi sebuah syariat Qurban, yang dilakukan setiap kali pelaksanaan Hari Raya Iedul Adha (Hari Raya Qurban).

Tidak hanya sampai disitu. Melalui tangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail-lah, Ka’bah di bangun di Kota Makkah. Ka’bah itulah yang kemudian menjadi Kiblat bagi kaum Muslimin hingga saat ini.

Semua hal besar diatas, dilakukan oleh Siti Hajar yang merupakan Isteri kedua dari Nabi Ibrahim, dan oleh Nabi Ismail yang merupakan anak Nabi Ibrahim dari isteri keduanya (Siti Hajar). Dan semua itu bermula dari Ke-Ikhlasan Siti Sarah dalam mencarikan dan menerima Siti Hajar sebagai isteri Kedua bagi suaminya, Nabi Ibrahim.

Siti Sarah sebagai isteri yang Shalehah, menyadari betul bagaimana pentingnya mendapatkan penerus dakwah Nabi Ibrahim bagi Ummat-nya. Siti Sarah mampu melawan ego-nya sendiri...!

Siti Sarah mampu melawan hawa nafsunya untuk memiliki Nabi Ibrahim seorang diri. Padahal pada saat itu, Nabi Ibrahim-pun tidak ingin menduakan isteri yang sangat dicintainya, dan telah dinikahinya selama bertahun-tahun.

Justru dengan Ke-Ikhlasan-nya untuk di Poligami, Siti Sarah telah membuka peluang untuk lahirnya seorang Nabi Ismail. Nabi yang merupakan penerus Dakwah bagi Nabi Ibrahim. Lahirnya Nabi yang merupakan anak dari Siti Hajar, isteri kedua Nabi Ibrahim.

Bisakah anda bayangkan, sekiranya Siti Sarah bersikeras agar Nabi Ibrahim tidak ber-Poligami?. Maka tentunya, tidak akan pernah ada Mata Air Zam-Zam, tidak akan ada Syariat Sa’i di bukit Shafa dan Marwah dalam ibadah Haji, tidak akan ada Syariat Qurban saat Iedul Adha, dan tidak akan ada Ka’bah sebagai Kiblat Ummat Islam, dan tentunya tidak akan ada Kota Makkah.

Disitulah manfaat ketentuan Poligami yang di buat oleh Allah.

Siti Sarah yang sangat mencintai suaminya (Nabi Ibrahim), dan Nabi Ibrahim yang sangat mencintai isterinya (Siti Sarah), tidak perlu bercerai hanya karena belum dikaruniai keturunan. Tetapi Nabi Ibrahim cukup menikahi wanita lain (Siti Hajar), dimana keputusan berpoligami tersebut, dapat tetap mempertahankan pernikahan Nabi Ibrahim dengan Siti Sarah yang sangat dicintainya. Dan tetap dapat menghasilkan keturunan sebagai penerus dakwahnya, yaitu dari isteri keduanya, Siti Hajar.

Maha Benar Allah dengan segala ketetapannya…

Mungkin bagi sebagian wanita, di Poligami oleh seorang pria yang tidak memahami Poligami sebagaimana yang di ajarkan oleh Agama Islam, merupakan sebuah penderitaan yang sangat dalam.

Tetapi hal tersebut janganlah membuat Kaum Muslimah menjadi “Anti”, atau bahkan membenci akan Poligami yang merupakan sebuah ketentuan dari Allah. Hal tersebut dikarenakan, tidak semua Pria layak ber-poligami. Dan tidak semua wanita harus di Poligami.

Poligami bukanlah sebuah keharusan. Poligami hanya boleh dilakukan, jika dibutuhkan, dan dapat memenuhi syarat-syaratnya.

Dan jika kita membenci poligami secara membabi buta, maka kita akan menjadi ingkar atas ketentuan Allah.

Dan jika kita ingkar kepada ketentuan Allah, maka kita juga akan ingkar kepada pembuat ketentuan itu sendiri, yaitu ingkar kepada Allah SWT. Naudzu billahi min dzalika…

Dan janganlah memandang Poligami dengan kacamata “Hak Asasi

Manusia”. Karena Allah yang menetapkan hukum poligami, adalah Zat yang paling mengerti akan hak-hak dari mahluk yang di ciptakannya.

Akan tetapi pandanglah Poligami dari sudut pandang Ke-Islaman dan Ke-Imanan.

Allah tidak akan menetapkan sesuatu yang sia-sia bagi manusia. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita adil, belum tentu adil menurut Allah. Apa yang sesuai bagi kita, belum tentu sesuai bagi orang lain. Apa yang menyenangkan bagi kita, belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

Lihatlah di sekitar kita. Banyak wanita yang disakiti dan merasa diperlakukan tidak manusiawi. Atau merasa diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Padahal sang suami hanya memiliki seorang isteri (Monogami).

Akan tetapi, tidak sedikit isteri yang merasa suaminya telah memuliakannya beserta anak-anaknya, bahkan keluarga besarnya, melalui pernikahan Poligami.

Bagi kaum Muslimah, janganlah menyama ratakan perasaan semua wanita sebagaimana perasaan anda dalam memandang Poligami. Pandanglah Poligami kasus per kasus. Mungkin anda pada saat ini tidak memerlukan Poligami. Bahkan mungkin anda membenci Poligami.

Tetapi masih banyak pasangan-pasangan diluar sana, yang mengalami kondisi seperti Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Dimana seorang wanita masih mencintai suaminya, dan suaminya masih mencintai isterinya. Sementara itu, karena satu dan lain hal, ia tidak bisa memenuhi “kebutuhan” suaminya.

Bisa jadi ia adalah seorang wanita yang mandul, sementara suaminya sangat ingin memiliki seorang anak kandung. Poligami bisa ditempuh demi mempertahankan rumah tangga mereka yang masih saling mencintai.

Atau adanya seorang wanita, yang di karenakan sakit berkepanjangan, sehingga tidak bisa melayani kebutuhan biologis suaminya. Adalah sangat dzalim, jika menceraikan seorang isteri yang sedang menderita sakit. Akan tetapi, jika sang pria tidak bisa menahan libidonya, dan di khawatirkan akan terjadi perzinahan, bukankah poligami akan bisa menjadi jalan keluarnya?.

Karenanya, janganlah menghakimi Poligami secara membabi buta. Ingatlah selalu, bahwa Poligami adalah hukum yang datang dari Allah, sang Pencipta Manusia, yang paling tahu akan kebutuhan mahluk yang diciptakannya. Tidak semua kasus Poligami adalah buruk.

Janganlah menggunakan “Kaca Mata” diri sendiri pada orang lain. Karena kondisi anda mungkin berbeda dengan kondisi orang lain.

Di luar sana, masih banyak wanita seperti Siti Sarah, yang rela untuk di Poligami. Bahkan mereka mungkin rela mencarikan isteri kedua bagi suaminya, demi mempertahankan pernikahannya dengan orang yang dicintainya.

Dan di luar sana juga masih banyak wanita seperti Siti Hajar. Seorang bekas budak wanita, yang kemudian diangkat derajatnya, dan dimuliakan dengan menjadi isteri seorang Nabi, melalui jalur Poligami.

Bahkan oleh Allah, lebih ditinggikan lagi derajatnya. Karena dari rahimnya-lah, lahir seorang Nabi yang mulia. Nabi yang banyak menorehkan sejarah besar, yaitu Nabi Ismail a.s.

Siti Hajar-pun dimuliakan oleh Allah, sebagai pelaku sejarah. Dimana dirinya juga terlibat dalam peristiwa awal mula timbulnya Syariat Sa’i di Bukit Shafa dan Marwah.

Bukankah disekeliling kita masih banyak wanita yang selama ini

dianggap rendah dan dianggap hina sebagaimana hal-nya Siti Hajar?.

Masih banyak janda-janda miskin, dengan anak-anak mereka yang hidup dalam kesulitan. Mereka hidup dalam kemiskinan. Dan mereka-pun adalah manusia.

Seperti layaknya Siti Hajar, seorang bekas budak wanita yang di merdekakan dan di muliakan melalui pernikahan Poligami, maka mereka-pun bisa dimuliakan melalui pernikahan secara Poligami.

Hal ini mengingat bahwa akan sangat sulit bagi seorang janda miskin yang sudah berumur dan memiliki banyak anak sebagai tanggungannya, berharap akan diperisteri oleh seorang pemuda yang belum menikah (lajang).

Sudah menjadi sesuatu yang lumrah, dimana seorang pemuda lajang, biasanya akan mencari seorang gadis muda (perawan) yang cantik, sebagai calon isterinya.

Maka di-Poligami adalah sebuah solusi, bagi para janda dan anak-anaknya, untuk mendapatkan seorang suami yang akan dapat memenuhi kebutuhan mereka, baik lahir dan batin. Sepanjang yang menjadi suami mereka adalah seorang lelaki yang Shaleh, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan mengerti bagaimana melaksanakan Poligami sesuai dengan syariat Islam yang di contohkan oleh Rasulullah.

Poligami seperti inilah yang diajarkan oleh Islam, yaitu Poligami yang baik untuk semua. Tidak ada fihak yang merasa di tindas. Dan semua fihak merasa bahwa hanya kebaikanlah yang akan di dapat.

Berbagai cercaan dilontarkan oleh kaum Musyrikin, sehubungan dengan Poligami (baik di jaman Rasulullah masih hidup dan di jaman modern sekarang ini). Hal itu untuk menjatuhkan kredibilitas Rasulullah.

Cercaan itu antara lain adalah, bahwa Allah dan Rasulullah telah berlaku tidak adil dengan membatasi Ummatnya yang hanya boleh memiliki 4 orang isteri.

Dan menurut kaum Musyrikin, Rasulullah hanya mementingkan kepentingan biologisnya semata. “Kenapa Ummat Nabi Muhammad dibatasi hanya boleh mengambil empat orang isteri. Sementara Rasulullah boleh berpoligami dengan lebih dari 4 orang isteri sekaligus (Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khathab, Shafiyyah binti Huyay, Saudah binti Zam’ah, Ummu Salamah binti Abu Umayyah, Zainab binti Jahsy, Maimunah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Juwariyyah binti al-Harits, dan Maria Qibthiyah) sepeninggalan Siti Khadijah r.a?”, demikian ungkap mereka.

Sesungguhnya, poligami yang dilakukan oleh Rasulullah, adalah sebelum turunnya ayat berikut ini,


“003. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”.

(Q.S.An-Nisaa’:3).

Setelah ayat diatas turun, maka Rasulullah dilarang Allah SWT untuk menambah jumlah isterinya. Dan dilarang untuk menceraikan isterinya, jika hanya untuk bertujuan menukar isteri.

Amatlah sangat Dzalim, jika saja Rasulullah yang berpoligami dengan niat baik, lalu setelah turun ayat tersebut diatas kemudian beliau harus menceraikan beberapa orang isterinya. Dan hanya menyisakan empat lainnya agar sesuai dengan ayat diatas. Sementara isteri-isteri Rasulullah telah mendapat kemuliaan sebagai Ummul Mukminin (Ibu Dari Kaum Beriman).

Apakah layak jika nanti Rasulullah menceraikan sebagian isterinya, lalu ada orang Muslim yang memperisteri janda-janda beliau, yang sudah mereka anggap sebagai ibu mereka (Ibu Kaum Mukmin)?.

Selain itu, sebagian besar dari isteri-isteri Rasulullah adalah wanita yang sudah berumur dan tidak menarik lagi.

Jika mereka telah menjanda karena di cerai oleh Rasulullah, dan tidak ada pria yang ingin menikahinya, bukankah itu malah akan mendzalimi mereka?. Haruskah mereka kemudian hidup sendiri dan terlunta-lunta?. Padahal tujuan awal Rasulullah untuk menikahi mereka, adalah agar mereka tidak hidup susah atau sengsara.

Demikian juga hal yang berlaku bagi seluruh Ummat Islam pada saat itu.

Ayat tersebut diatas, hanya berlaku bagi Ummat Islam yang hendak berpoligami setelah masa turunnya ayat tersebut. Hal ini membuktikan bahwa amat sangat tidak beralasan tudingan dari kaum Kafirin dan Musyrikin yang menganggap bahwa Poligami dengan lebih dari 4 orang isteri yang dilakukan oleh Rasulullah, adalah semata-mata untuk memenuhi kepentingan biologis Rasulullah semata.

Setelah membaca uraian yang cukup panjang lebar mengenai poligami diatas, semoga jangan ada lagi manusia yang merasa lebih hebat dan lebih tahu mengenai kebutuhan manusia lain, daripada Allah sang pencipta manusia. Karena Allah sebagai pencipta Manusia, pasti faham betul akan kebutuhan dari tiap-tiap mahluk ciptaannya yang berbeda satu sama lain.

Dan jangan ada lagi manusia yang mencoba merusak hukum yang telah diatur oleh Allah, dengan cara mengada-adakan larangan untuk berpoligami. Selama yang dilakukan adalah Poligami yang sesuai dengan syariat Islam, dan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Jika ingin membuat aturan, janganlah membuat aturan yang melarang berpoligami. Karena aturan seperti itu, sama saja dengan menentang kekuasaan Allah, yang telah mengatur Poligami.

Tetapi buatlah peraturan yang memberikan batasan yang jelas, tentang pada kondisi seperti apa Poligami boleh atau tidak boleh dilakukan. Dan semuanya haruslah mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadis Nabi.

Pandanglah Poligami sebagaimana sebuah pisau. Ya…, sebuah pisau.

Mungkin tidak semua orang membutuhkan pisau. Tetapi bagi seseorang yang hendak memasak, pisau akan menjadi suatu kebutuhan yang sangat diperlukan, setidaknya untuk memotong bahan-bahan makanan yang hendak dimasak.

Hal tersebut juga berlaku pada poligami. Mungkin banyak diantara kita yang tidak membutuhkan Poligami, karena merasa cukup dengan hanya seorang isteri. Tapi ada sebagian dari kita, dalam kondisi khusus, akan memerlukan untuk ber-Poligami atau untuk di Poligami.

Sebagaimana layaknya Pisau, jika yang menggunakannya faham atau mengerti tentang bagaimana cara menggunakan pisau tersebut, maka kemungkinan untuk terluka, atau untuk melukai orang lain, akan sangat kecil sekali.

Demikian pula dengan Poligami. Jika yang ber-Poligami dan yang di Poligami mengerti tentang Poligami yang sesuai dengan Ajaran Agama Islam, maka Poligami akan memberikan manfaat bagi mereka. Tidak akan ada yang terluka hatinya, dan tidak akan ada yang disakiti.

Tetapi jika Poligami yang dilakukan adalah Poligami yang tidak sesuai dengan Ajaran Islam, maka Poligami akan merusak, melukai, dan menyakiti bagi salah seorang diantara mereka, atau bahkan menyakiti semuanya yang terlibat di dalamnya.

Sebagaimana Pisau yang dapat digunakan oleh orang-orang baik untuk mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak bagi keluarganya, maka Pisau juga dapat digunakan oleh orang-orang jahat untuk menodong, mengancam, bahkan untuk membunuh seseorang.

Demikian pula dengan Poligami.

Jika Poligami dilakukan untuk niat yang mulia, oleh orang Shaleh (yang mengerti Poligami sesuai ajaran Agama Islam), seperti halnya poligami yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. atau seperti poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, maka Poligami tersebut akan berhasil baik, dimana tidak akan ada fihak yang disakiti.

Dimana Nabi Ibrahim melakukan Poligami dengan niat mulia untuk mendapatkan keturunan yang Shaleh, yang dapat meneruskan tugasnya dalam berdakwah membimbing Ummat. Maka yang di hasilkan adalah keturunan yang Shaleh, isteri-isteri yang baik, dan keluarga-keluarga yang di muliakan oleh Allah.

Demikian juga yang terjadi dengan pernikahan Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Tetapi kalau Poligami dilakukan oleh orang-orang yang jahat, dengan niat jahat, dimana hanya untuk memperturutkan hawa nafsu semata, dan meninggalkan aturan Poligami yang sesuai dengan ajaran Agama Islam, maka Poligami tersebut akan melukai, dan menyakiti banyak fihak.

Lalu, jika Pisau dapat digunakan oleh orang jahat untuk menodong, mengancam, bahkan membunuh orang lain, apakah lalu kita kemudian akan melarang agar pisau tidak lagi dibuat?. Apakah kita kemudian akan melarang agar pisau kemudian tidak lagi perlu digunakan?. Tentu tidak…!.

Karena pisau di tangan orang-orang baik, dapat digunakan untuk kebaikan, seperti untuk memotong-motong bahan makanan yang akan kita sajikan bagi orang-orang yang kita cintai. Pisau masih sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Bukan Pisau-nya yang harus dilarang, akan tetapi orang yang berbuat jahat dengan menggunakan Pisau itulah yang harus ditangkap dan di hukum.

Seperti halnya pisau tersebut diatas, janganlah kita melarang atau membenci Poligami hanya karena adanya permasalahan yang ditimbulkan oleh orang-orang jahat yang berpoligami dengan tidak mengikuti ajaran Islam yang telah mengatur Poligami sesuai Sunnah Rasulullah.

Janganlah mengecam Poligami yang sesuai dengan Ajaran Agama Islam. Kecamlah orang-orang yang berpoligami (yang tidak sesuai dengan ajaran Islam) dengan niat hanya untuk memperturutkan hawa nafsu.

Jangan menyalahkan Poligami, karena ia hanyalah sebuah solusi yang di berikan oleh Allah. Akan tetapi, salahkanlah orang yang menyalahkan gunakan Poligami tersebut untuk sekedar melampiaskan nafsu.

Dan yang kembali perlu di ingat adalah, bahwa Poligami sudah ada dan banyak di praktekkan, jauh sebelum Islam di sebarkan oleh Rasulullah.

Dan bukan agama Islam yang memperkenalkan Poligami!.

Islam hanyalah mengatur Poligami, agar tidak merusak dan merugikan bagi manusia. Dan Islam hanya memperbolehkan Poligami, jika pelakunya memiliki kemampuan lahir dan bathin, dan bisa menerapkan Ajaran Islam dalam ber-Poligami.

Islam memberikan batasan-batasan yang jelas secara hukum. Dan Islam telah memberikan contoh-contoh ber-Poligami yang baik, seperti yang di contohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad SAW.

Poligami yang dilakukan dengan melawan aturan-aturan agama

Islam, dan bertentangan dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah, adalah tidak di benarkan!.

Islam tidak menganjurkan Poligami untuk dilakukan oleh semua Ummatnya. Poligami hanya diperbolehkan bagi seseorang yang memiliki “kebutuhan khusus”, dan yang dapat memenuhi syarat-syaratnya sesuai Ajaran Islam. Sehingga dengan itu, orang tersebut diharapkan tidak akan terjerumus dalam perzinahan.

Seharusnya kita sebagai manusia, tidak hanya memelihara alam semesta, akan tetapi harus memelihara hukum-hukum Allah. Dan bukannya merusak hukum-hukum Allah hanya demi memuaskan kepentingan pribadi, golongan atau segelintir orang saja.

Amatlah jahat tuduhan musuh-musuh Islam terhadap Agama Islam dan Rasulnya, dimana mereka meng-identikkan Islam dengan Poligami. Mereka dengan tanpa memiliki pengetahuan, mengatakan bahwa Islam adalah agama yang melanggar Hak Asasi Kaum Wanita, dan melecehkan kaum wanita dengan Poligami. Dan mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama yang hanya memperturutkan hawa nafsu semata.

Semoga uraian ini dapat bermanfaat bagi kita dalam menangkal tuduhan-tuduhan keji dari musuh-musuh Islam.


Catatan Khusus:


Tentang pernikahan antara Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah r.a., adalah merupakan petunjuk dari Allah SWT melalui teladan Rasulullah, bahwa kedewasaan seorang wanita adalah tidak ditunjukkan oleh usia, akan tetapi dari apakah ia sudah mendapatkan menstruasi atau belum.


Rasulullah tidak langsung berhubungan badan/setubuh dengan Siti Aisyah r.a setelah mereka menikah (saat itu usia siti Aisyah adalah 9 tahun), akan tetapi Rasulullah membiarkan Siti Aisyah tetap bermain dengan kawan-kawannya. Hingga kemudian Siti Aisyah mendapatkan Haid nya, lalu Rasulullah mengajaknya untuk tinggal bersama sebagai suami isteri.


Perlu diingat, bahwa kedewasaan dalam Islam adalah dilihat dari sudah mendapat menstruasi atau belum. Hal ini juga sama dengan wajibnya Syariat Shalat, dimana seorang wanita sudah diwajibkan untuk melakukan Shalat jika sudah menstruasi/haid.


Haid sendiri merupakan pertanda biologis bahwa alat reproduksi/kandungan sudahlah sempurna, sehingga memungkinkan seorang wanita untuk bisa menikah dan mengandung.


Setelah haid itu pulalah, wanita akan mengembangkan fungsi hormon sexual dalam tubuhnya. Ia jadi tertarik secara sexual pada pria. Pada kondisi ini, pernikahan sudah bisa dilakukan (jika memang ia benar-benar ingin menikah), karena menikah akan bisa menyelamatkannya dari perzinahan.


Berbeda dengan kaum Kuffar yang selama ini menghina Syariat Islam. Mereka mengagung-agungkan kedewasaan berdasarkan umur, dimana mereka beranggapan bahwa usia untuk menikah haruslah cukup dewasa, katakanlah 25 atau 30 tahun, tetapi selama masa jeda tersebut (masa setelah haid hingga akhirnya mereka menikah), mereka isi dengan perzinahan untuk memenuhi syahwat mereka.


Manakah yang lebih baik... Segera Menikah setelah Haid, atau menunda pernikahan hingga merasa siap, tetapi mengisinya dengan perzinahan... Naudzu Billahi Min Dzalik!.


Dan yang harus diperhatikan oleh anti adalah bahwa bagi orang arab, tubuh mereka besar-besar, jangan samakan dengan tubuh orang Asia. Jika anti pernah Umroh atau Haji ke tanah Suci, anti akan bisa melihat bahwa anak perempuan yang baru mengalami haid, tubuh mereka sudah terbentuk sempurna, bagaikan wanita dewasa. Demikian juga dengan Aisyah r.a. di saat itu.


Jadi jangan samakan Rasulullah dengan para pedofilia yang suka "memangsa" anak kecil di dunia barat.


Rasulullah menikahi Aisyah r.a. yang sudah dewasa, yang ditandai oleh sudah mengalami Haid, karena ukuran dewasa menurut Islam adalah bukan dari usia, akan tetapi dari hadirnya Haid bagi wanita, dan dari hadirnya mimpi basah bagi lelaki, yang kesemuanya menandakan bahwa mereka sudah siap secara sexual, dan jatuh kewajiban untuk melakukan seluruh syariat Islam.


Yakinlah akan ajaran Islam ya Ukhti, karena ajaran Islam diturunkan oleh Allah SWT yang telah menciptakan manusia, dan paling tahu akan kebutuhan manusia.


Dan jangan terpengaruh oleh pemikiran atau faham atau pendapat manusia, karena cara berfikir mereka adalah dengan menggunakan otak dan fikiran mereka yang kemampuannya terbatas, serta seringkali dikotori oleh hawa nafsu dan bisikan setan.


Kalaupun ada ajaran atau syariat Islam yang mungkin tampak tidak masuk akal atau logika, bukan berarti syariat tersebut salah, akan tetapi otak kitalah yang belum mampu mencernanya, karena kita hanyalah hamba Allah SWT yang bodoh dan lemah. Tetapi dengan perkembangan zaman, syariat tersebut akan nyata kebenarannya.


Semoga uraian diatas akan bermanfaat bagi anti Siti, dan makin menguatkan keimanan dan ketakwaan anti. Insya Allah, Amiin.(info ini telah dihantar melalui email oleh seorang ikhwah).


Wabillahi Taufiq Wal Hidayah.


Wassalamu Alaikum.


Abang Iman -http://www.forumdakwahkemayoran.blogspot.com/

0 comments:

Post a Comment

 

H3aRt_crIMe!!! Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template